Rumah Panggung dan Sebuah Ingatan
 |
| Abd. Razak (Alm. ..... - 1991 ) |
Tepatnya pukul satu siang sepulang sekolah bulan Februari tahun 1991,
bergegas aku berlari meloncati pagar sekolah yang masih tergembok. Lalu
berlari melewati pekuburan sebagai jalan pintas untuk secepat mungkin
tiba di rumah, dan pagar rumah bagian belakang telah kubuat pintu
rahasia yang kadang kala di manfaatkan juga oleh segerombolan sapi atau
kambing untuk memakan anak pisang yang sedang tumbuh.
Sebelumnya aku telah yakin kalau tetangga akan berkumpul, itu sering
terjadi dan sering pula kusaksikan sejak aku merasa sudah mampu untuk
mengingat. Tetangga akan berkumpul jika ada yang meninggal, dan
sepenuhnya aku belum terbiasa menangis untuk sesuatu yang telah hilang.
Hanya terkadang aku menangis jika kalah dalam adu kelereng atau kalah
dalam berkelahi. Tapi untuk yang satu ini aku benar-benar belum paham
untuk menangis.
Suasana sesaat di rumah begitu ramai. Orang hilir mudik menuruni anak
tangga, setiap orang yang datang selalu menatapku dengan tampakan wajah
belas kasih dan terhisak menangis. Tentu saja aku menanggapinya sebagai
hal biasa yang sering dilakukan oleh setiap orang. Tapi sering juga ada
rasa yang hendak keluar dari dalam tubuhku, ia hendak berteriak lebih
keras dari suara tangis yang ramai itu. Emak dan saudara juga menatapku
seperti orang-orang yang baru datang dan sesekali juga terdengar suara
memanggil namaku.
Tak ada yang dapat kulakukan hingga peristiwa selanjutnya. Orang-orang
telah ramai membentuk barisan bagai pasukan tentara berjalan menuju
pekuburan yang kukenal sebagai jalan pintas pribadiku menuju rumah
sepulang sekolah.
Aku sendiri memilih di luar barisan itu berlari melewati barisan
panjang yang berjalan pelan hingga sampai dipekuburan. Kali ini tak ada
lagi yang mencoba menatapku, lalu aku berdiri diatas batu nisan yang
lumayan tinggi dan memungkinkan menyaksikan orang-orang memasukkan
bungkusan.
“Oh ia! Aku ingat, orang bilang kalau itu adalah mayat.”
Semua kegiatan yang sedang berlangsung kusaksikan dengan seksama sampai
pak ustadz membaca doa pertanda sebentar lagi semua akan usai dan
orang-orang kembali kerumahnya.
***
Sore usai pemakaman dan sepenuhnya belum gelap, di saat pekuburan mulai
sepi. Aku memilih ketanah lapang bergabung dengan sejumlah anak-anak
sebayaku bermain bola di pinggir lapangan. Sesekali kabur bila pemain
besar berebut bola disudut lapangan tempat kami menendang bola. Setelah
puas dan keringat membasahi bajuku, akupun beranjak pulang. Dan
sepertinya ada ketakutan ketika ingin melewati jalan pintas pribadiku
dan ketakutan itu semakin besar sehingga hari-hari berikutnya aku tak
lagi melewati pekuburan sepulang sekolah. Jalan raya kini menjadi
pilihan utama meski jaraknya agak jauh dari rumah. Karena mesti berjalan
lurus sebelum sampai ke lorong menuju rumahku.
Diperjalanan pulang sore itu. Kudengar orang-orang dipinggiran jalan
menyebut-nyebut namaku dan ada juga yang memanggilku. Mendengar itu aku
cuma menoleh sambil melanjutkan langkahku, semua begitu biasa seperti
tak pernah terjadi sesuatu. Dan rasa di dalam tubuhku kembali muncul
serasa ingin keluar berteriak dengan keras, tapi tetap saja aku tidak
mengerti. Aku belum paham untuk menangis.
Begitu sampai di rumah. Emak segera mengajakku mandi di sumur di
belakang rumah, membuka bajuku dan mulai menyiramiku dengan air yang
sudah ditimbahnya di ember, lalu menggosok kakiku.
”Emak selalu menggosok kakimu agar kelak kau tidak nakal!” Kata emak lalu menggosokkan juga sabun dipunggungku.
“Kau jangan nakal, ambe’nu telah pergi!” Kata emak lagi sambil menangis dan sejenak berhenti mengulas sabun.
Ia menangis menunduk, matanya sembab dan merah. Melihat itu aku meraih
sabun ditangannya dan melanjutkan mengulas sabun itu di badanku. Emak
kembali menyirami air membersihkan sisa-sisa sabun dan segera menyuruhku
naik kerumah. Dan di rumah giliran kakak tertuaku mengambilkan baju
lalu mengenakannya dibadanku, ia pun menangis dan berkata.
“Ambe telah pergi, kau jangan nakal.!”
***
Di rumah tidak ada kebiasaan menonton menjelang petang. Televisi hanya sesekali dinyalakan di malam hari kala ambe hendak menyaksikan berita. Ambe hanya
menonton sendiri karana cuma dia yang gemar berita sebagai bekal
keesokan hari untuk selanjutnya diceritakan pada teman-temannya di sawah
atau di pos ronda dikala sore. Dan biasanya aku selalu berada di Lego-lego karena emak akan bercerita tentang zaman Gerombolan
menurut penuturan emak. Pernah suatu kejadian seluruh warga akan di
arak masuk kedalam hutan bersama ternak dan seluruh anggota keluarga.
Tapi warga menolak dan hanya merelakan seekor ternaknya dibawah pergi
oleh para kawanan gerombolan dan setelah itu warga kembali tenang
mengikuti jalannya hari. Emak begitu hafal setiap kejadian di masa
lalunya karena umurnya sudah bisa untuk mengingat segala hal. Kata emak
dirinya tak pernah memikirkan tentang masa depan hidupnya. Kerena esok
adalah segala macam ketidakjelasan, terkadang di jarah sama bangsa Nippon atau para gerombolan pribumi yang datang meminta ternak atau Peso.
***
Malam purnama kali ini terasa lain karena kurasa begitu lama peralihan
jam dari menit ke menit dan entah tersadar atau tidak. Tatkala
kutorehkan wajah menatap jam berwarna biru yang tergantung di dinding
sebagai satu-satunya hiasan dinding yang sering dipelototi untuk membuat
suatu perjanjian. Tampak jarum kecilnya yang berwarna merah berhenti
berputar, hendak kuajak emak dan saudara lainnya untuk menyaksikan itu,
tapi kejadian itu sepertinya hanya dipertontonkan untukku. Sebab emak
dan saudara lainnya mendapati jarum merah kecil jam itu berputar.
“Emak coba lihat lagi!” Ajakku
“Benar…! Kali ini jarum jam itu telah berhenti berputar mak!”
Aku sibuk sendiri dengan kejadian itu, ajakanku untuk
menyaksikan kejanggalan ditanggapi emak sebagai kerinduan kepada bapak
yang tidak kutangisi kepergiannya.
Malam terus bergerak dengan kesunyian yang hampir tenang, hanya
hembusan angin kemarau yang menggoyang pepohonan. Dan gesekan pohon
bambulah yang berbunyi seakan hendak terbelah, batangnya rebah bergoyang
diterpa angin yang semakin kencang, membuat ujungnya menunduk menyentuh
tanah. Sungguh malang pada anak burung bangau yang membangun sarang
dirantingnya karena anaknya yang belum bisa terbang pasti terjatuh dan
keesokan harinya akan menjadi penemuan terpenting bagi anak-anak yang
selalu ingin memelihara anak bangau namun tak pernah tercapai karena tak
seorang pun yang berani memanjat pohon bambu.
Dan malam-malam yang selalu kuingat di mulai ketika aku mendapatkan
emak di sudut rumah menghadap jendela. Itu bukan kesengajaan yang
direncanakan karena aku sudah tak biasa lagi kencing ditempat tidur dan
sudah menjadi rutinitas untuk bangun tengah malam buang air kecil yang
mengganggu tidur. Dengan mata yang masih berat dan jalan pintas yang
cepat, segera saja aku bangkit menuju jendela, sedikit mentelukkukan
kedua kaki untuk mendapatkan lubang jendela dan disitulah aku selalu
buang air kecil dimalam-malam yang panjang dimana emak selalu menegurku
agar aku kencing di Jongke saja. Sedikit kaget dengan letupan suara yang di lontarkan di malam yang pekat.
“Tak mungkin itu suara emak!” Pikirku.
Tapi keraguan itu buyar karena emak memang berada disitu duduk
menghadap jendela dengan gorden yang terbuka. Kemudian emak memintaku
mengambil air untuk menyiram sisa air kencing yang pasti singgah dikusen
jendela. Tak berani menolak atau tepatnya teguran yang memang pantas
itu, rasa kantuk kontan tergantikan dengan keberanian melangkah ke
jongke mengambil air di gentong. Tetangga yang mendengar mungkin kaget
dengan suara siraman air yang menggaduh ketenangan malam.
“Emak sholat Isya ya?” Sapaku mencoba melupakan kejadian tadi.
“Tidak, emak sholat malam”
“Tapi aku tidak pernah mendengarnya di sekolah mak!”
“Kelak kau juga akan tahu.” Kata emak lagi.
Mukenanya sengaja dilepas lalu melebarkan telapak tangannya yang
kembali menyatu dibawah dagunya, emak sedang berdoa dan aku merebahkan
badanku dipangkuannya. Pemandangan di angkasa dengan kerling bintang
terlihat sangat banyak, purnama tak terlihat lagi karena cahayanya
terhalangi rimbunan pepohohan, hanya sinarnya yang membuktikan kalau
malam ini purnama masih perkasa. Sebagian pepohonan terlihat jelas dan
daunnya berguguran di tiup angin.
Aku menanti usainya doa emak dan berharap mengajakku kembali tidur.
Adzhan subuh yang terdengar parau tapi terasa merdu karena tak ada suara
lain yang mengganggu alirannya yang licin, mataku terbuka mendengar itu
meski aku masih enggan meninggalkan kasur empuk buatan emak dengan kain
banyak ragam. Sebagian dari karung terigu, lainnya kain spanduk sebuah
produk sabun dan sisanya kain daster milik emak yang tidak terpakai
lagi. Kalau tidak salah ada tiga baju daster untuk menyempurnakan polah
kasur.
Aroma pagi yang masih sedikit gelap selalu menjadi lamunanku selepas
tidur dan emaklah yang selalu hadir dengan segala aktifitasnya. Seusai
sholat shubuh. Emak segera kedapur menyalakan tungku lalu memasak air
dan kalau ada sisa nasi santapan malam. Emak akan menggorengnya, setelah
itu selesai, barulah emak turun ke bawah membuka pintu kandang itik
yang sudah ribut meminta makan pagi.
Selanjutnya barulah aku beranjak dari tempat tidur lalu duduk berpangku
tangan di anak tangga, dan bila emak kembali memergokiku sedang
berpangku lutut seperti itu. Ia pasti akan marah dengan teguran yang
berulang:
“Itu tidak baik!”
***
Aku tidak pernah mencuci muka dan langsung berlari kejalan menanti
teman-teman bermunculan untuk melanjutkan sisa permainan kemarin.
Sekarang ini lagi musim permaninan Gasing
tapi sejak kemarin aku tak memiliki lagi potongan kayu berbentuk
kerucut itu, gasingku rusak karena kalah dalam adu permainan. Dan
diujung jalan yang tidak beraspal sudah terlihat dua teman memperagakan
putaran gasingnya. Lalu memperlihatkan ketangkasannya memutar gasing di
atas telapak tangannya. Aku hanya terus memperhatikan dari tempatku
duduk. Persis di depan rumah.
Aku masih enggan melangkah kearah mereka karena panggilan emak untuk menyantap nasi goreng belum terdengar.
Tak lama kemudian sayup terdengar nyanyian emak yang selalu ia lantunkan
bila hendak memamanggil itiknya. Dan itu merupakan pertanda panggilan
emak untuk menyantap nasi goreng tak lama lagi.
Hal ini memang sudah menjadi kesenanganku. Serasa mendapat sendal baru
dari bapak agar aku selalu rajin ke masjid sholat berjamaah, meski itu
cuma terjadi pada waktu maghrib saja. Karena waktu isya tak mungkin lagi
bagiku. Malam di kampung sangat gelap dan itu menjadi penghalang bagi
anak-anak sebayaku untuk kembali sholat berjamaah di masjid yang
jaraknya lumayan jauh dari rumah.
Dihari kini sebentuk kesenangan yang selalu kujumpai tinggallah pada
santapan nasi goreng di awal pagi buatan emak. Karena seiring hari yang
berganti dan ketika sendalku sudah mulai usang dan sebentar lagi talinya
bakal putus. Bingkisan sendal baru tak lagi kudapati tergantung di
kolong rumah. Hal yang selalu di lakukan oleh ambe bila sudah membelinya di pasar. Lalu dengan candanya ia berucap kalau Nene Pakande, tokoh fiktif yang selalu bapak ceritakan. Telah menitipkan sendal baru itu buatku.
Hal ini semakin kusadari kalau ambe memang telah tiada di dunia
ini. Ia sudah wafat. Tapi kenapa air mataku tak juga bercucuran
sebagaimana yang terjadi pada emak dan saudaraku, bahkan para tetangga
juga menangis. Atau jangan-jangan Tuhan tidak membekaliku air mata, tapi
itu mustahil karena guru agamaku di sekolah selalu bilang kalau Tuhan
itu tidak pernah keliru dalam tiap ciptaannya. Dan itu di perkuat dalam
firmannya serta sabda nabinya Muhammad Bin Abdullah.
Tak terasa lamunanku tergantikan dengan senyum mendengar pekikan emak memanggilku.
Semoga saja ambe’ku dapat melihat sendalku yang sudah harus di ganti, dan meminta nene pakande menitip sendal baru lagi di kolong rumah.
***
Seusai makan pagi aku memberanikan menanyakan hal yang tak biasa pada emak, terutama sejak wafatnya ambe dan nene pakande tak lagi menitip sendal baru buatku. Juga kenapa air mataku tak keluar di saat ambe
wafat, terus mengapa teman-temanku yang dulu rajin mengajakku sholat
maghrib berjamaah di Masjid tak lagi berteriak memanggilku seperti yang
lalu-lalu.
“Kenapa mak!”
Mendengar itu, emak semakin menyibukkan tanganya membersihkan sisa santapan pagi lalu segera mencuci piring-piring dan gelas.
“Hari ini kalau tidak mau kesekolah, kau boleh ikut kakakmu kesawah” kata emak kemudian.
Tak berani lagi mendesak emak karena ia pasti akan menangis. Aku
langsung saja kesumur. Mandi dengan usaha sendiri menimba air lalu
megenakan seragam merah putihku. Aku menerka kalau emak sebenarnya
memintaku untuk segera berangkat kesekolah. Sedikit aku menoleh kalau
emak memprhatikanku lewat di jalan raya, ia memicingkan matanya dan
menggeleng-gelengkan kepalanya. Aku yakin kalau emak begitu heran karena
biasanya aku selalu membanggakan diri di depannya kalau akulah murid
yang paling cepat sampai di sekolah karena pekuburan merupakan jalan
pintas pribadiku yang tak banyak di lalui oleh anak sekolah sebayaku.
Kadang kala aku selalu ingin sekali begitu cepat besar dan mengetahui
banyak hal. Dan yang terpenting menggantikan posisi kakak perempuanku
yang berangkat pagi-pagi sekali kesawah lalu pulang di akhir sore dengan
lima ekor sapi. Terasa banyak hal yang berubah tiba-tiba di sekitarku,
itu sungguh semakin membuatku tak tenang dalam hal. Di sekolah, mulutku
tak banyak bicara lagi dengan teriakan-teriakan untuk mengganggu
anak-anak perempuan yang sedang menulis. Di tempat bermain aku lebih
memilih diam saja, dan di tempat mengaji aku selalu terlambat pulang
karena lama sekali baru bisa lancar membaca darasan baru. Lalu di rumah
akulah yang paling cepat tidur.
Aku tak begitu peduli kalau orang-orang memperhatikan tingkah lakuku
ini. Bagiku kuanggap saja sebagai kesenangan baruku karena ada sesuatu
hal yang begitu dalam kurasakan tapi tak juga kubisa menjelaskannya.
Emak sudah jelas memberi sejuta alasan bila hal yang ingin sekali
kuketahui kutanyakan padanya. Sesekali aku merasa kesal juga pada emak
yang sebenarnya tahu segala hal yang kurasakan. Mungkin saja emak tak
begitu rela menceritakan hal-hal yang sebenarnya padaku dikarenakan aku
masih kecil dan hanya menghiburku kalau kelak aku juga pasti paham.
Lalu selanjutnya aku sudah mulai memiliki semacam pegangan yang bisa
diandalkan. Setidaknya aku tak lagi meminta emak menimbah air di sumur
untuk kupakai mandi, dan aku mengenakan sendiri pakaian seragam
sekolahku tanpa bantuan kakak tertuaku. Itu kuanggap sebagai
bentuk-bentuk jawaban dari pertanyaan-pertanyaan beraniku pada emak. Dan
betapa senangnya aku di suatu pagi mendapati emak tersenyum melihatku
berangkat kesekolah. Gelengan kepalanya kini tergantikan dengan anggukan
kebanggaan. Sedari dulu mungkin hal seperti itulah yang di inginkan
oleh emak.
Satu hal yang begitu drastis berubah dalam kebiasaan di rumah di mulai
dari meja dapur dengan tidak adanya makan bersama lagi. Aku, emak dan
saudara-saudaraku mengambil jatah makan sendiri-sendiri. Bahkan santapan
nasi goreng di awal pagi, emak sudah membagi-baginya diatas piring.
Tapi hal itu tentulah perubahan yang begitu wajar-wajar saja dan akan
menjadi rutinitas yang tak perlu dikhawatirkan. Sebagaimana bila kita
kehilangan salah satu anggota keluarga, karena kematian tentulah
merupakan keharusan yang tak bisa dihindari. Seperti matahari yang
terbit dari timur.
Itulah takdir yang tak bisa di rubah.
***
Cerita Rakyat Indonesia #65: Nenek Pakande, Siluman Pemangsa Manusia
Diposkan oleh
Cerita Rakyat on Wednesday, March 6, 2013
Di
Sulawesi Selatan,
kisah Nenek Pakande dikenal sebagai cerita rakyat yang sudah melegenda.
Cerita rakyat ini disampaikan secara turun temurun oleh masyarakat
melalui tradisi lisan. Setelah zaman internet, blog Cerita Rakyat
Indonesia menyampaikan cerita rakyat berjudul
Nenek Pakande, Siluman Pemangsa Manusia
ini melalui tradisi tulisan. Cerita rakyat ini mengisahkan tentang
seorang siluman tua yang suka memakan bayi dan anak-anak. Ketika sampai
di daerah Soppeng dan memangsa tiga bocah cilik, warga mengerjai Nenek
Pakande dengan memanggil Raja Bangkung Pitu Reppa Rawo Ale.
Bagaimana cerita rakyat ini selengkapnya?
***
Dikisahkan,
pernah suatu waktu sebuah daerah di Soppeng (salah satu kabupaten di
Sulawesi Selatan) didatangi oleh seorang nenek. Dilihat dari
penampilannya, nenek ini hanyalah orang biasa - yang rambutnya berwarna
putih dengan konde di kepala, berwajah keriput, tubuh setengah
membungkuk, dan pakaian dari sarung batik dan kemeja. Orang-orang di
daerah tersebut, yang terkenal ramah dan damai, menerima saja kedatangan
si nenek. Mereka tidak mengetahui bahwa nenek yang datang ke wilayah
mereka adalah Nenek Pakande.
Kalian tahu, siapa Nenek Pakande
itu? Wujud asli Nenek Pakande adalah sesosok siluman, yang senang
memakan daging manusia. Terlebih lagi daging anak-anak. Hiii... Nama
Pakande diambil dari bahasa Bugis, yaitu "manre" yang artinya "makan".
Nenek Pakande sudah menjadi cerita rakyat bagi masyarakat Soppeng sana.
Nenek
Pakande biasa melakukan aksinya saat pergantian hari, yaitu saat
matahari mulai tenggelam di ufuk barat. Karena, tidak ada yang
mencurigai kehadiran Nenek Pakande di daerah tersebut, maka ia leluasa
melakukan aksinya. Korban pertama Nenek Pakande di daerah tersebut
adalah dua kakak beradik yang masih di luar, saking serunya mereka
bermain.
Ibu mereka sebenarnya sudah menyuruh masuk. "Nak, ayo cepat masuk rumah. Hari sudah malam!"
Sayangnya,
kedua bocah tersebut hanya menganggap perintah Ibunya sebagai angin
lalu. Hingga, Nenek Pakande dengan cepat menculik mereka untuk dibawa ke
rumahnya. Di sana, si Nenek menyantap kedua bocah tersebut. Sementara,
Ibu kedua bocah tadi kebingungan mencari kedua anaknya yang mendadak
hilang dari halaman rumahnya.
Gegerlah daerah tersebut karena
hilangnya dua bocah malang tanpa dosa. Tetua adat meminta warga,
khususnya para pria, melakukan penyisiran. Namun, hasilnya nihil. Dua
bocah itu tetap tidak ditemukan.
Belum hilang aura kesedihan di
daerah tersebut, keesokan hari seorang bayi yang tengah ditinggal ibunya
ke belakang tiba-tiba menghilang. Nenek pendatang barulah yang menculik
bayi tersebut dan memakannya di rumahnya. Setelah kenyang, si Nenek
berpikir untuk menetap selama penyamarannya belum terbongkar. Warga yang
membantu mencari, tentu tidak ketemu si bayi karena memang sudah tidak
ada lagi di dunia.
***
Gara-gara kejadian ini, diadakanlah
rembug kampung. Para tetua dan warga berdiskusi mengenai peristiwa yang
meresahkan ini. Tentu mereka takut kalau anak-anak mereka yang menjadi
korban berikutnya.
"Tentu kita tidak boleh mendiamkan hal ini.
Dua kejadian belakangan ini sudah cukup meresahkan. Kami khawatir, yang
jadi korban berikutnya, adalah anak-anak kami."
"Ya, memang kita tidak akan mendiamkan hal ini. Hanya saja, siapa yang sudah melakukannya?"
"Sepertinya, ini cara yang dilakukan oleh Nenek Pakande."
"Nenek
Pakande? Bagaimana dia bisa masuk ke tengah-tengah masyarakat kita
tanpa dicurigai? Dan siapa orangnya yang menjadi Nenek Pakande?"
Semua orang saling memandang, tidak tahu harus menjawab apa.
"Kita semua tahu, ada seorang warga baru di kampung ini."
"Siapa?"
"Seorang nenek yang tinggal persis di batas terluar kampung ini."
"Apakah dia Nenek Pakande yang dimaksud?"
"Bukan menuduh. Tapi, semenjak kedatangannya..."
"Kenapa kita tidak kesana saja sekarang dan membunuhnya?"
"Tidak.
Kita semua tahu, Nenek Pakande adalah cerita rakyat yang berilmu
tinggi. Tidak ada seorang pun dari kita yang memiliki kekuatan gaib
setimpal dengannya."
"Mmm, apa sebaiknya kita meminta tolong Raja Bangkung Pitu Reppa Rawo Ale?"
Raja
Bangkung Pitu Reppa Rawo Ale adalah raksasa setinggi sekitar 7 hasta.
Raksasa itu juga doyan memangsa manusia. Bedanya, Raja Bangkung hanya
memangsa manusia jahat yang tidak disukainya.
"Ya, mungkin bisa. Tapi, keberadaan Raja Bangkung sudah lama tidak pernah terdengar atau terlihat lagi."
"Lalu, apa yang harus kita lakukan?"
Suasana hening. Tidak seorang pun yang buka suara. Disaat itu, La Beddu, seorang pemuda cerdik angkat bicara.
"Maaf, bolehkah saya berbicara? Saya punya ide mengenyahkan Nenek Pakande dari kampung ini, selamanya," ujar La Beddu.
"La
Beddu, kamu cuma pemuda biasa! Dibanding Nenek Pakande yang berilmu
tinggi, kamu tidak ada apa-apanya," seorang warga berkata merendahkan.
Tetua adat menenangkan warga. "Biarlah La Beddu mengemukakan idenya."
La
Beddu tersenyum kecut, ia melanjutkan bicaranya. "Tidak selamanya
kesaktian harus dilawan dengan kesaktian. Selama ini, aku dikenal
sebagai pemuda cerdik. Tapi, ada perbedaan antara cerdik dan licik. Nah,
mari kita pakai cara licik untuk mengalahkan kesaktian Nenek Pakande."
"Apa kamu tidak takut dengan Nenek Pakande?"
"Orang
yang berani bukanlah orang tanpa rasa takut. Saya memiliki rasa takut
itu, tapi saya memilih untuk melawan rasa takut itu."
Warga yang mendengar kata-kata La Beddu menjadi semangat kembali.
"Kali
ini kita akan mengerjai Nenek Pakande. Tapi, saya minta, permintaan
saya dipenuhi. Saya membutuhkan beberapa ekor belut, kura-kura, salaga
(garu), busa sabun satu ember, kulit rebung yang telah kering, dan
sebuah batu besar. Jika semua sudah tersedia, kumpulkanlah di rumah
saya."
Warga memenuhi permintaan La Beddu, walaupun mereka belum mengerti apa maksud La Beddu. Mereka mengikuti permainan La Beddu.
***
Keesokan
hari, saat malam menjelang, semuanya telah dipersiapkan untuk menjebak
Nenek Pakande. Seorang bayi ditaruh di rumah La Beddu dengan pengawasan
ketat demi memancing Nenek Pakande.
Benar saja, Nenek Pakande
terpancing dan menuju rumah La Beddu. Karena, mencium aroma bayi.
Lagipula, hanya rumah La Beddu saja yang diterangi lampu minyak. Nenek
Pakande tidak curiga sama sekali bahwa itu adalah jebakan warga. Saat
telah berada di depan kamar yang ada bayinya, terdengarlah suara. Suara
itu suara La Beddu yang bersembunyi di atas atap, yang dibuat
seolah-olah seperti Raja Bangkung Pitu Reppa Rawo Ale.
"Nenek Pakande, kenapa kamu datang kemari?" tanya La Beddu yang tengah menyamar.
"Saya ingin mengambil bayi ini untuk dimakan."
"Jangan kamu makan bayi tidak bersalah. Dasar kamu siluman tua! Pergi dari desa ini, kalau tidak, kumakan kamu!"
"Saya tidak percaya kalau kamu Raja Bangkung!"
La Beddu memerintahkan warga untuk menumpahkan air sabun, supaya si nenek percaya bahwa itu air liur Raja Bangkong.
"Saya sedang lapar, Nenek Pakande. Lihat air liurku sudah mengalir. Jika kamu tidak segera enyah, kumakan kamu!"
"Saya yakin kamu hanya orang biasa yang menyamar sebagai Raja Bangkung!"
La Beddu memerintahkan lagi warga untuk menjatuhkan sisir yang besar dan kura-kura secara beruntun.
Melihat
hal tersebut, nyali Nenek Pakande menciut juga. Tanpa menunggu lama
lagi, Nenek Pakande lari keluar dan tidak melihat belut yang diletakkan
di dekat tangga keluar oleh warga. Membuat Nenek Pakande jatuh
berguling-guling di tangga. Kepalanya membentur batu besar yang sudah
disiapkan di bawah tangga. Walaupun limbung, Nenek Pakande tetap memaksa
untuk berdiri. Sebelum meninggalkan desa itu, Nenek Pakande
meninggalkan suatu pesan “Saya akan memantau anak kalian dari atas sana
dengan cahaya rembulan di malam yang sangat gelap. Dan suatu saat nanti
saya akan kembali memangsa anak-anak kalian.”
***
Demikianlah
Cerita Rakyat berjudul Nenek Pakande, Siluman Pemangsa Manusia ini kami
tulis. Adapun pesan tersirat dalam Cerita Rakyat ini adalah sikap yang
ditunjukkan oleh La Beddu bahwa akal sehat mesti diutamakan dalam
menghadapi berbagai persoalan. Semoga kita dapat mengambil manfaat dari
Cerita Rakyat ini.
Cerita rakyat sulawesi selatan I Basse Awu (cinderella ala makassar)
I BASSE AWU
Riolonia’carita
katalassanna
se’rea taulolo.Anronna sallomi lingka ri anja.Lanri limbannamori
anja anjo anronna, manggena abbuntingngi pole siagang se’rea baine rua
ana’na.Lanri kammanami anjo, appammulami mumba
ballasa’ katallassanna anjo tau loloa. Sikontuna pakeang baji’na, nialle
ngasengngi, naanjo tauloloa harusu’i anjama terasa appammula mumbana
dallea saggenna lantang bangngia lalang pakeang awu-awuna.Taena
ranjang katinroanna, nakajarianna sanging
attinroami ri sa’ri pappalluangnga sileo’ awu. Nakajarianna sanging
ra’masa’mi
cinikanna, naiami anjo, nigallara’mi
risikontuna tuncinikai angkanaya
I Basse Awu.
Nia’mo se’re
wattu, anjo manggena erokki a’lampa mange ri bori’ maraeng, namakkuta’nammo
mange ri sikontuna ana’na angkanaya, ke’nang apa numinasai kuerang pole battu ri lampaku.
Mabbali kanami ruaya ana’ awona naminasainna angkanaya erokki
nipangngerangngang muttiara siagang paramata, namingka I Basse Awu tangke
kayuji naminasai. Nakammanami anjo,rimania’namo
ammotere manggena, nipangngerangngammi tangke kayu hassele, natabbangka
nalamummi ri sa’ri jerana anronna. Tangasalloji
nalamunna anjo tangke kayua, na majjarimi se’re pokok kayu lompo.Taena
allo nasakkai I Basse Awu mange ri jera’na anronna nammempo rawanganna
anjo pokokna kayu hasselea. Tunggala wattu,sanging mumbana sikayu
jangang-jangang kebo’, napunna anjo I
Basse Awu napalabbarrang sikontuna minasanna, anjo jangang-jangangnga
nasareangngi ri sikontuna naminasaia.
Nia’mo se’re
wattu na karaeng lompoa erokki appare’ paggaukang lompo nanakioki sikontuna
taulolo bajikka tanja’na ri lalang borikka, sollanna anjo ana’ pattolaya kullei
angguppa julu tinrona.Ruaya saribattang awona I Basse Awu angguppa tongngi
pabbiritta. I Basse Awu nia’ todong minasanna ero’ a’lampa mange ri gaukka,
namingka nakana anrong awona,, Kau sanna’ ra’masa’nu,taena baju na sapatu
baji’nu, naero’ tongko akkarena?. Naribokoanna makkanami anrong awona,, Erok
kutumpangngi simangkok canggoreng antama
ri awua, kullejako lampa ri paggaukangnga, punna nukulleji nupa’nassa sikamma ri
memanna anjo canggorengnga”. Appala’ tulummi
I Basse Awu mange ri jangang-jangangnga.Tangasalloji, mumbami makkawang
sijaiang jangang-jangang lonna napa’nassa anjo canggorengnga sumpaeng nanaboli’ lalang mangkoka.Namingka anjo
anrong awona,tatta’ji mumba terasa’na, nanaminasai pole napa’nassa rua mangkok
canggoreng. Namanna mamonjo nakamma, I
Basse Awu anjo tippa’ji napa’lebbaq
jamanna lanri ambutulu’na pattulung battu ri jangang-jangangnga, na
anrong awona lampami siagang ruaya ana’na mange ri paggaukang lompona
karaengnga.
Anjo
I Basse
Awu sanna’ pa’risi atinna, natabbangka allarimo mange ri sa’ri jera’na
anronna.Naanjoreng ri jera’na makkanami
,,Oh pokok kayu caddiku, pasintak na pagenggoangnga kalennu,rembassang
laloa
mai kodong sikontuna bulaeng na
salaka”.Natabbangka mabbummi battu rate
ri pokok kayua silawara baju mattambiring bulaeng siagang sapatu sannaq
gammara’na. Naiaya tommi anjo bayua siagang sapatua napake I Basse Awu
mange
ripaggaukang malompoa. Taena tau manna mamo se’re kulle anrupai lalang
paggaukangnga anjo, namanna ana’ pattolayya taena naero’ akkarena punna
tansiagangngi anjo tau tanniassengnga. Pakammami pole ri allo maka ruana
na
allo maka tallunna.
Battumi pole
sassang lantang bangngia, natabbangka ero’mi I Basse Awu amotere ri balla’na na
ana’ pattolaya erokki naasseng kerei mae ke’nang ammantang.Namingka anjo I
Basse Awu sanna’ lacciri larinna,nakajarianna anjo ana’ pattolaya tamakkulleai
napinawang. Natappa’ ta’lappasakki siwali sapatunna I Basse Awu nanibuntulukki ri ana’ pattolaya.
Naniboyami I
Basse Awu ri ana’ pattolaya mange risikontuna borikka.Makkuta’nammi mange ri
sikontuna tutabbalaka namakkana,, Nakke ero’ja abbunting siagang baine cocokka
bangkenna ri sapatu bulaengnga anne”. Ba’lalo napolommi anrong bangkenna
saribattang awo toana solanna nacocoki
ri bangkenna na saribattang awo makaruaya napolong tongngi
kantunu’na.Nipadongko’ jarammi ruayya saribattang awona ri ana’ pattolaya
sangkammaya bali bunting bainena, namingka bukkuru’ ampakaingaki nanapauang angkanaya
bunting baine satojeng-tojengnga, nia’ injapi
mempo ilalang balla’. Natappa motere’mo pole anjo ana’ pattolaya mange
ri ballaka sumpaeng nanabuntulukki nanapa’nassa iami anjo I Basse Awu.
Napasammi anjo sapatua ri bangkenna I
Basse Awu natabbangka sanna coco’na ri
bangkenna. Nanierammi I Basse Awu mange ri Balla Lompoa,tallasa lalang
salewangangmi sipa’rua sanggenna mange mattayang ri kalabbusang tallasa’na.